Siaran Pers tentang Gelar Pertemuan Germas Sapa, BPOM Gerakkan Kolaborasi Lintas Sektor Wujudkan Keamanan Pangan Indonesia

21-10-2025 Dilihat 61 kali

SIARAN PERS

Nomor HM.01.1.2.10.25.160 Tanggal 21 Oktober 2025

Tentang

Gelar Pertemuan Germas Sapa, BPOM Gerakkan Kolaborasi Lintas Sektor Wujudkan Keamanan Pangan Indonesia 

Jakarta – Selasa (21/10/2025), BPOM menyelenggarakan Pertemuan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat Sadar Pangan Aman (Germas Sapa) di Aula Gedung Bhinneka Tunggal Ika, Kantor BPOM Pusat. Pertemuan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Pangan Sedunia yang diperingati pada tanggal 16 Oktober setiap tahunnya. Tema yang diangkat tahun ini adalah “Hand in Hand for Better Foods and a Better Future” (Bergandengan Tangan untuk Pangan dan Masa Depan yang Lebih Baik).

Kepala BPOM Taruna Ikrar membuka secara resmi kegiatan yang turut menghadirkan perwakilan dari kementerian/lembaga, pemerintah daerah dari seluruh Indonesia, serta stakeholder lain. Keterlibatan lintas sektor dalam kegiatan ini mencerminkan tema kegiatan, yang menitikberatkan bahwa persoalan pangan merupakan tanggung jawab kolektif dari lintas sektor, lintas generasi, bahkan lintas negara.

Pertemuan hari ini bertujuan sebagai sarana sosialisasi mengenai pentingnya sinergi dalam keamanan pangan kepada pelaksana teknis di tingkat daerah. Tujuan ini berkaitan dengan peran BPOM dalam mengoordinasikan pengawasan keamanan pangan dengan instansi pemerintah pusat dan daerah untuk menjamin keamanan pangan di sepanjang rantai pangan, sesuai amanat peraturan perundang-undangan.

Keamanan pangan kini menjadi tantangan global, termasuk di Indonesia. Berdasarkan data World Health Organization (WHO), 1 dari 10 orang di dunia sakit akibat pangan terkontaminasi, menyebabkan 420.000 kematian setiap tahun, dengan 40% di antaranya adalah anak balita. Angka ini menjadi pengingat bahwa food safety first harus menjadi prioritas utama.

“Pangan tidak hanya harus tersedia, tetapi juga aman dan berkualitas. Bukan pangan jika tidak aman,” tegas Kepala BPOM.

Aspek keamanan pangan juga erat kaitannya dengan status gizi. Profil Kesehatan Indonesia 2024 (Kemenkes, 2025) menunjukkan prevalensi stunting balita masih tinggi (19,8%). Sekitar 7,4% balita mengalami wasting (gizi buruk dan gizi kurang) tetapi 9,3% balita berisiko mengalami kelebihan gizi. Selain itu, prevalensi penduduk Indonesia usia ≥18 tahun mengalami obesitas mencapai 18,5% berdasarkan hasil deteksi dini pada tahun lalu.

Di sisi lain, maraknya produk pangan ilegal serta informasi menyesatkan di media sosial turut memengaruhi pola konsumsi masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa isu keamanan pangan tidak hanya terkait ketersediaan dan keterjangkauan, tetapi juga perilaku dan literasi masyarakat.

Selain pengawasan, upaya pembinaan dan edukasi kepada pelaku usaha dan masyarakat menjadi langkah yang tidak kalah penting untuk membangun budaya sadar pangan aman. Dalam hal ini, BPOM telah menginisiasi berbagai program keamanan pangan berbasis masyarakat, seperti Desa Pangan Aman, Pasar Pangan Aman Berbasis Komunitas, dan Sekolah dengan Pembudayaan Keamanan Pangan. Ketiga program tersebut terintegrasi dalam Germas Sapa, yang bertujuan meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat di seluruh rantai pangan. Hingga 2024, BPOM telah menjangkau 1.106 desa/kelurahan, 453 pasar, dan 17.318 sekolah, serta mencetak lebih dari 31.000 kader keamanan pangan yang ada di tingkat desa, pasar, dan sekolah.

Program tersebut terbukti memberikan dampak positif. Kajian di 105 desa di 34 provinsi menunjukkan bahwa Desa Pangan Aman mampu menghemat hingga Rp72,94 miliar dari penurunan kasus diare akibat pangan tidak aman, dengan biaya pelaksanaan hanya Rp11 miliar. BPOM juga telah memperkuat sinergi dengan berbagai kementerian dan lembaga, termasuk Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), dan Kementerian Perdagangan (Kemendag). Sinergi ini dimaksudkan agar program keamanan pangan semakin luas, efektif, dan berkelanjutan.

Dalam pertemuan ini, Kepala BPOM juga menyerahkan penghargaan kepada pemerintah kabupaten/kota, desa, sekolah, dan unit pelaksana teknis (UPT) BPOM di berbagai daerah yang telah berhasil menjalankan program Germas Sapa dengan baik. Penghargaan didasari hasil penilaian oleh tim penilai dari 10 kementerian/lembaga, yang telah berkontribusi dan bersinergi bersama BPOM dalam memastikan keamanan pangan secara terpadu.

“Kami harap penghargaan ini dapat menumbuhkan dan mendorong semangat, kreativitas, dan partisipasi masyarakat untuk mengambil peran lebih besar dalam upaya mewujudkan keamanan pangan”, terang Kepala BPOM.

Selain itu, kegiatan hari ini juga menghadirkan sesi talkshow yang membahas lebih lanjut mengenai sinergi bersama lintas sektor dalam upaya penanganan persoalan ketahanan dan keamanan pangan. Sesi ini diisi oleh narasumber dari BPOM, Kemendes PDT, Kemendag, dan Kemendikdasmen.

Rangkaian Pertemuan Germas Sapa ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui pangan yang aman dan sehat. BPOM berkomitmen untuk terus memperkuat kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan dan mitra pembangunan di tingkat pusat maupun daerah. Melalui seluruh UPT, BPOM akan terus mengembangkan program pemberdayaan dan pengawasan keamanan pangan yang berorientasi pada peningkatan kesehatan masyarakat, kualitas sumber daya manusia, serta daya saing bangsa.

“Mari jadikan peringatan Hari Pangan Sedunia bukan sekadar slogan, tetapi gerakan nyata untuk mewujudkan pangan yang lebih baik dan masa depan yang lebih sehat bagi anak-anak kita, bagi Indonesia, dan bagi dunia,” tutup Kepala BPOM.

Sarana